Sedikit Tentang Eropa, Indonesia, dan Muslim

Bagaimana pendapat teman-teman jika melihat foto ini?

pemandangan eropa hallstatt winter

Cantik sekali bukan? ^^ Banyak sekali orang bermimpi untuk pergi ke Eropa. Ada berbagai alasan mengapa banyak sekali orang ingin pergi ke benua biru ini. Mulai dari mutu pendidikannya yang bagus, tempat-tempatnya yang begitu indah dan antik, makanannya yang enak, kehidupan yang nyaman, bahkan sampai keinginan beberapa orang, terutama laki-laki, ingin menonton berbagai liga sepak bola di Eropa! 😆 Walaupun demikian, tidak sedikit juga yang mengubur mimpi-mimpinya untuk menginjakkan kaki Eropa. Salah satu yang ditakuti adalah menjalani kehidupan sebagai muslim di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya nonmuslim. Sampai saat ini kekhawatiran akan diskriminasi di Eropa masih menjadi hal yang cukup mengkhawatirkan bagi sebagian orang, seperti larangan menggunakan jilbab bagi muslimah, serta isu Islamofobia yang sering dihembuskan berbagai media di Eropa dan Indonesia. Lalu haruskah kita mengubur mimpi-mimpi tersebut? Mengingat masih banyak negara-negara lain yang indah yang masih bisa kita kunjungi tanpa kekhawatiran akan diskriminasi. 

Jika itu alasannya, kamu sekarang tidak perlu khawatir. Karena saat ini Eropa sudah mulai terlihat seperti negeri-negeri muslim! Sangat mudah menemukan muslimah berjilbab, bahkan bercadar di jalan-jalan di Eropa. Saya memang belum berkunjung ke seluruh negara-negara yang ada di Eropa, akan tetapi dari tiga negara yang saya kunjungi, yaitu Belanda, Perancis, dan Belgia, mudah sekali bagi saya menemukan muslimah berjilbab. Bahkan hanya selang beberapa meter sesudah saya bertemu muslimah berjilbab, saya bertemu muslimah berjilbab lainnya. Mungkin sebagian dari teman-teman berfikir, “itu kan baru tiga negara”. Memang baru tiga negara tersebut yang saya kunjungi, tapi jika teman-teman sering menonton jelajah Islam, atau petualangan lainnya yang mencari jejak Islam di negeri mayoritas non muslim, maka teman-teman bisa melihat kenyataannya. Bahkan beberapa analis memperediksikan, di tahun 2050, Rusia akan menjadi negara Muslim. Lihat saja penduduk muslim Rusia yang sekarang saja sudah mencapai lebih dari 25 juta jiwa. Kemungkinan prediksi ini bisa diikuti oleh negara-negara lainnya. Melihat pertumbuhan penduduk muslim yang tinggi dibandingkan non muslim, hal ini memang bisa saja terjadi. Beberapa negara yang dulu melarang pemakaian jilbab, sekarang satu persatu sudah mulai menghilangkan peraturan tersebut. Bahkan beberapa politisi muslim Eropa sudah dipercaya untuk menjabat di pemerintahan. Salah satunya menteri di Inggris. Tentu saja kepercayaan ini dibarengi dengan semakin bertambahnya umat Islam di Eropa. Sehingga suara umat Islam sudah mulai diperhitungkan.

Lalu bagaimana dengan makanan halal? Itu juga sama mudahnya dengan menemukan muslim di Eropa. Jika teman-teman berjalan di satu deretan café atau kedai makanan, pasti teman-teman akan menemukan 1-2 café atau kedai makanan halal. Makanan-makanan halal juga sudah bisa kita dapatkan di supermarket atau toko-toko yang menjual makanan halal. Toko-toko dan kedai-kedai makanan halal semakin hari semakin berkembang. Biasanya yang menjual makanan halal di Eropa adalah orang Turki.

Kalo teman-teman berkesempatan ke Grand Palace di Brussels, Belgia, makan teman-teman akan menemukan mayoritas pedagang souvenir adalah muslim. Bahkan beberapa toko coklat penjualnya adalah muslim, jadi tidak perlu takut membeli coklat yang tidak halal.

Ada juga kejadian menarik ketika saya di Amsterdam sepulangnya dari Brussels. Turun dari terminal, saya dan teman-teman saya ingin segera shalat Ashar dan mengisi minum dari keran toilet. Karena toilet umum masih dibersihkan, kami memutuskan untuk menggunakan toilet operator terminal seperti saat kami mau berangkat ke Paris. Alhamdulillah, kami bertemu dengan operator yang sama dengan ketika kami hendak berangkat ke Paris, dan kami kembali diizinkan menggunakan toilet operator. Orangnya sangat ramah, ketika saya sudah keluar dari toilet, giliran teman saya yang masuk ke toilet. Saya dan teman saya yang satu lagi tiba-tiba saja diberikan tiket trem pulang-pergi Amsterdam CentraalTerminal  Zeeburg di Zuiderzeeweg  for free senilai €14,4 untuk kami bertiga! Dia bertanya apakah kami dari Indonesia? Kami pun menjawab iya. Dia mengatakan bahwa dia sangat senang bertemu muslim dari Indonesia. Dia bilang dia memiliki teman yang tinggal di Jakarta, dan bulan Mei tahun depan dia berencana mengunjungi temannya di Jakarta. Dan dia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Muslim dan juga mahasiswa hukum di Universitas Amsterdam. Saat itu dia sedang part time job menjadi operator terminal. Saya tidak menyangka kalau dia adalah muslim. Wajahnya memang tidak terlalu bule, agak sedikit Arab. Tapi siapa yang menyangka kalau dia muslim. Lalu kami segera menanyakan masjid yang terdekat dari terminal tersebut karena kami agak kesulitan menemukan masjid di Amsterdam. Berbeda ketika kami di Utrecht, kami cukup mudah menemukan masjid. Atau ketika kami di Paris, kami juga cukup mudah menemukan masjid Raya Paris (Grande mosquee de Paris).

Paris Mosque Grande mosquee de Paris

Masjid Paris Grande mosquee de Paris

salah satu sudut masjid raya Paris

Selama di Eropa, masjid-masjid menjadi salah satu kunjungan kami. Dan ternyata masjid tersebut tidak begitu jauh dari terminal tersebut.

Walaupun kami begitu mudahnya bertemu muslim, tetapi pendidikan yang Islami, atau pengajaran Al-Quran masih cukup minim di Eropa. Pernah suatu ketika saya bertemu dengan seorang muslimah berjilbab di atas trem yang duduk di samping saya. Kami pun berkenalan dan mengobrol. Muslimah tersebut bercerita bahwa dia adalah keturunan Maroko yang semenjak kecil sudah menetap di Belanda. Dia menanyakan apakah saya bisa membaca Al-Quran dan apakah di Indonesia ada madrasah yang bisa mengajarkan Al-Quran. Saya pun menjawab iya. Dia senang sekali mendengarnya, dia mengatakan dirinya merasa sangat iri. Dia pun bercerita bahwa dia merasa sedih karena sampai sekarang masih terbata-bata membaca Al-Quran walaupun dia adalah keturunan Maroko, salah satu negara yang menggunakan bahasa Arab. Katanya tidak mudah menemukan lembaga pengajaran Al-Quran untuk seusianya. Terutama di lingkungan tempat dia berdomisili. Kalaupun ada diperuntukkan untuk anak-anak. Saya jadi merasa kasihan padanya, dia begitu sulitnya mencari taman pendidikan Al-Quran, berbeda sekali dengan di Indonesia, taman pendidikan Al-Quran tersebar di mana-mana. Bahkan jika kita ikut seringkali tanpa biaya sepeserpun! Tapi masih ada saja orang tua yang tidak memasukkan anaknya ke taman pendidikan Al-Quran. Saya pikir ini merupakan suatu kesempatan bagi para ustadz atau orang Indonesia yang mengerti agama dan mau tinggal di Eropa untuk berdakwah dan mengajarkan agama. Karena di sana sedang membutuhkan banyak ustadz dan ahli agama, melihat pertumbuhan umat muslim Eropa yang begitu pesat.

Sekarang mari kita berbicara mengenai orang Indonesia di Eropa. Agaknya iklan indomie itu memang benar. Jika kamu di salah satu negara Eropa (bukan Belanda), dan ingin makan indomie, datanglah ke Belanda. Di Belanda ini ternyata mudah sekali menemuka orang Indonesia, jalan sedikit saja, kami sudah menemukan suara orang Indonesia di mana-mana. Di Belanda memang banyak sekali orang Indonesia, terutama orang Maluku dan keturunan Indonesia. Sehingga jika ingin kuliah atau tinggal di Eropa, tetapi tidak ingin merasakan homesick atau culture schock, maka kuliah atau tinggalah di Belanda, karena kamu seperti sedang merasakan tinggal di negara yang seperti Indonesia. Bahkan banyak nama jalan-jalan di Belanda menggunakan nama-nama pulau dan tokoh-tokoh Indonesia.

Museum-museum yang menceritakan tentang Indonesia juga cukup banyak, bahkan kamu bisa menemukan museum bernama museum Maluku di Utrecht!

museum Maluku Utrecht

museum Maluku di Utrecht

Beberapa kali saya disapa oleh bule Belanda asli dan mengajak saya berbincang. Di antara perbincangan tersebut, mereka mengatakan bahwa mereka pernah ke Indonesia, dan mengatakan Indonesia itu indah, mereka sangat ingin berkunjung kembali ke Indonesia. Bahkan beberapa dari mereka bisa sedikit bahasa Indonesia. Jika melihat betapa baiknya hubungan orang Indonesia dan Belanda di sini, saya jadi tidak menyangka bahwa mereka pernah menjajah Indonesia 350 tahun!

Saya memang menyadari, bagi orang-orang di negara lain, Indonesia merupakan tempat yang menyenangkan, di mana matahari bersinar sepanjang tahun dan kamu bisa menanam apapun di tanah Indonesia. Bahkan menanam kayu sekalipun bisa tumbuh menjadi makanan (singkong). Senior saya yang tinggal di Belanda bilang, orang Indonesia di Eropa sangat dihargai, karena biasanya orang Indonesia merupakan pelajar yang berprestasi, berbeda dengan orang Arab atau Eropa timur yang kurang begitu disukai karena sebagian mereka dianggap merebut pekerjaan orang pribuminya. Juga berbeda dengan ketika saya dan teman saya transit di Abu Dhabi dan kami yang merasa bosan pun keliling airport, kami disangka TKW yang tersesat oleh petugas di sana ketika kami mencoba membantu beberapa teman TKW yang terlihat kebingungan. Lalu ketika kami menggunakan bahasa Inggris mereka terkaget-kaget dan tersenyum. Terutama setelah mengetahui tujuan kami adalah konferensi di Belanda dan kami mencoba membantu para TKW yang ‘terlantar’ tersebut. Kenapa saya mengatakan terlantar? Bagaimana tidak, para TKW tersebut tidak memiliki bekal bahasa Arab atau bahasa Inggris untuk bertanya pada petugas airport. Ketika tiba pertama kalinya, tidak ada orang yang langsung menjemput mereka. Akhirnya setelah kami mencoba membantu dengan bertanya kepada petugas airport, petugas airport malah tersenyum dan mengatakan tenang saja, hal seperti ini sudah menjadi pemandangan biasa di airport Abu Dhabi, nanti juga ada yang menjemput katanya. Pantas saja saya melihat wajah para petugas yang cuek dan biasa saja, padahal para TKI ini benar-benar kebingungan! Akhirnya mereka merasa lega setelah kami sampaikan bahwa nanti mereka ada yang menjemput. (Baca: Sepenggal Kisah dari TKW di Abu Dhabi).

Lalu bagaimana dengan Belgia dan Perancis? Di kedua tempat ini juga mudah menemukan orang Indonesia, walaupun tidak semudah di Belanda. Tapi untuk kedua tempat ini, dibandingkan menemukan pelajar Indonesia, lebih sering menemukan wisatawan dari Indonesia. Contohnya saja saat saya ke Grand Palace di Brussels, saya merasa seperti hampir semua wisatawan adalah orang Indonesia. Terutama jika kita berkujung ke toko coklat, banyak sekali saya mendengar suara orang Indonesia. Berbeda dengan saya dan kedua teman saya yang bermodalkan nekat ke sana tanpa pemandu, bahkan makan dan tidur ala kadarnya (kami bawa nasi, kerupuk belut dan ceker di tas kami, serta makanan ringan seperti biskuit dari Indonesia), hehe~😁 Ketika kami berbincang dengan beberapa orang Indonesia, mereka langsung menebak bahwa kami adalah student di Eropa. Padahal kami hanya sedang konfrensi dan tidak lama di Eropa. Hal ini berbeda sekali dengan ketika kami di Abu Dhabi di mana kami disangka TKW oleh petugas aiport. Ketika saya ke masjid raya Paris pun saya bertemu dengan orang Indonesia yang tersenyum-senyum melihat saya dan kedua teman saya mengisi air minum dari keran taman dan duduk melepas penat sambil makan kerupuk ikan tenggiri dari Indonesia, hoho~ Life is beautiful~  😉

Next : Idul Fitri, Kantor Polisi, dan Cerita Mualaf di Belanda

Previous : Traveling Murah di Eropa dengan Megabus

2 Responses

  1. Dodi

    Assalamualaikum.
    Asyik sekali baca pengalaman mbak.
    Sukses selalu dan dalam berkah Alloh Swt.
    Amiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *