Perasaan dan Pernikahan

posted in: Indonesia, Lifestyle | 0

Waktu masih SMA, saya yang terbiasa membaca novel dan menonton film komedi romantis, ingin menikah di usia 20 tahun. Kalau difikir-fikir keinginan saya saat itu benar-benar hanya angan-angan, haha. Saya punya prinsip tidak mau pacaran, karena pacaran hanya membuang-buang waktu jika bukan untuk pernikahan, maka saya sering membuat barrier dengan pria. Saya berprinsip tidak ingin menyakiti perasaan sesorang dengan memberikan harapan palsu. Jika saya tidak suka saya akan berkata tidak atau bersikap dingin. Karena tau prinsip saya, maka pria-pria yang datang biasanya akan langsung mengajak saya serius menikah instead of pacaran.

Saya sendiri tidak paham kenapa saya sulit jatuh cinta dengan seseorang, tapi sekalinya saya menyukai seseorang, saya akan begitu setia dan memberikan seluruh hati dan support saya untuknya. Sampai hal krusial datang menghentikan perasaan saya, misal pria tersebut akan menikah dengan wanita lain atau jelas-jelas pria tersebut menyukai orang lain, maka otomatis alam bawah sadar saya menghentikan perasaan saya karena saya tidak bisa menyukai pria yang menyukai wanita lain. Well, jika anda kenal saya dengan baik, sebenarnya saya memiliki wajah dan sikap yang komikal, jadi sangat mudah untuk mengetahui apakah saya menyukai seseorang atau tidak. 😀

Jika tidak kenal saya dengan baik, banyak orang salah paham mengatakan saya terlalu pemilih. Apakah saya pemilih? Sebenarnya tidak. Anda cukup membuat saya nyaman didekat anda untuk membuat saya menyukai anda. Pria-pria yang selama ini singgah di hati saya bukanlah pria-pria tampan atau mapan seperti yang orang-orang pikirkan. Kalau saya simpulkan, saya menyukai karena karakter-karakter berikut: berhati hangat (baik dengan semua orang, bukan baik hanya pada wanita), optimis dalam memandang kehidupan, memiliki passion dan pengetahuan yang membuat saya terpesona, dan nyambung jika berbicara dengan saya bagaikan sahabat terbaik. Karena itu saya membutuhkan waktu untuk bisa menyukai seseorang. Walaupun anda seorang pria tampan dan mapan, jika anda terburu-buru langsung ingin menikah tanpa saya pernah mengenal karakater anda sebelumnya, maka siap-siap saya tolak. Saya harus mengenal karakter dan kepribadian anda dulu, dan bagi saya itu memerlukan waktu.

Kini saya berumur 28 tahun. Saya sendiri tidak menyangka sampai di usia ini saya belum menikah, haha. Karena waktu SMA saya berfikir bahwa saya ingin menikah di usia 20 tahun. Alasannya sesimpel ingin terlihat seperti kakak bagi anak. :p Padahal yang penting itu terlihat awet muda, bukan usia muda, haha. Dan ketika sudah berumur 20 tahun saya berfikir ingin menikah maksimal di usia 24 tahun. Namun manusia hanya bisa berencana, tetap Tuhan lah yang menentukan. Jika saya hanya mengejar target, maka di usia 20 tahun sebenarnya saya sudah bisa menikah, karena pada usia tersebut sudah ada yang melamar. Tidak peduli seberapa inginnya saya menikah, saya tidak ingin terburu-buru dalam memutuskan untuk menikah hanya karena semua orang menyuruh saya segera menikah atau hanya karena kebanyakan teman saya sudah menikah. Bagi saya pernikahan bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat laku (manusia bukan barang dagangan), pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral, sekali seumur hidup untuk menemukan kebahagian bersama. Maka saya ingin menemukan pendamping hidup yang bisa seperti sahabat terbaik dan saling mendukung satu sama lain.

autumn love story

Fall in Love, ilustrasi novel yang sedang saya garap

Leave a Reply

Your email address will not be published.