Muslim dan Diskriminasi

posted in: Indonesia, Islam, Stories | 4

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujurat [49]: 13).

Tidak bisa dipungkiri beberapa media sering menyudutkan muslim dan memberikan informasi yang tidak benar terkait Islam. Bahkan media-media tersebut mem-blow up perilaku oknum yang mengaku Islam tetapi tidak menunjukkan perilaku selayaknya yang Islam ajarkan. Pun dalam membuat berita, seringkali melakukan standar ganda,  jika perilakunya orang yang mengaku Islam walau hanya satu dua orang dikatakan sebagai teroris, tetapi jika bukan orang yang mengaku Islam yang berbuat kejahatan, tidak dikatakan teroris, melainkan hanya kejahatan biasa yang dilakukan seseorang. Hal ini mengakibatkan muslim yang tidak salah apa-apa mengalami diskriminasi, terutama di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim.

sumber foto : https://www.flickr.com/photos/saulalbert/39575268471

Perilaku diskriminasi paling sering menimpa muslimah yang berhijab. Karena hijab merupakan identitas sebagai muslim secara fisik, sehingga paling cepat dan mudah dikenali bahwa orang tersebut adalah muslim. Berbeda dengan laki-laki yang tidak mudah dikenali secara fisik sebagai muslim karena memang tidak ada karakter khusus. Sehingga jika kamu ingin tau apakah muslim didiskriminasi di suatu negara, jangan tanyakan pada laki-laki muslim, tapi tanyakanlah pada muslimah yang berhijab.

Selama mengunjungi beberapa negara, Alhamdulillah bisa dikatakan saya hampir tidak pernah didiskriminasi. Justru saya merasakan kehangatan pertemanan antar negara. Contohnya saja ketika di Korea. Baru 2 hari saya tiba di Korea, saya tersenyum kepada Ahjeossi keamanan KAIST hanya sebagai bentuk keramahan, tiba-tiba saya yang hendak membeli es krim bertemu dengan Ahjesossi tadi, dia pun langsung membayar es krim saya di mini market dekat pos keamanan tersebut. Selain itu pernah suatu ketika saya menunggu kereta di sebelah saya ada kakek-kakek yang terus mengamati saya, saya pun tersenyum pada kakek tersebut. Tiba-tiba kakek itu juga tersenyum dan mengajak saya berbicara bahasa Korea. Sebenarnya saya tidak mengerti sebagian besar perkataan kakek tersebut, tapi saya berusaha mendengarkan seksama sambil tersenyum. Ketika kereta saya datang, kakek tersebut tiba-tiba memberikan saya amplop. Sesampainya di asrama ketika saya membuka amplop tersebut isinya adalah lukisan tangan beserta puisi dengan cap seperti zaman dinasti Joseon serta tulisan ‘Hanja’ yang setelah saya tanyakan ke Songsaenim (guru) bahasa Korea saya, puisi tersebut maknanya indah sekali. Belum lagi beberapa kenalan orang Korea sering mentraktir saya, bahkan mengajak ke kampung halamannya dengan semuanya teman saya yang membayari.

puisi di korea

Lukisan yang diberikan seorang kakek di stasiun Daejeon

Walaupun begitu, satu kali saya pernah mengalami pengalaman buruk di Seoul, Korea Selatan. Ketika saya mengantri taksi di terminal, taksi-taksi tersebut secara sengaja melewati saya, dan berhenti pada orang yang mengantri setelah saya. Idealnya saya yang mengantri lebih awal dan paling dekat dengan taksilah yang harusnya lebih dulu dinaikkan, tapi saya malah dilewatkan. Ketika itu saya berusaha ber-husnudzon mungkin mereka tidak mau menaikkan orang asing selama masih ada orang Korea. Karena berdasarkan pengamatan saya dan dari menonton drama Korea, orang Korea yang tidak bisa berbahasa Inggris cenderung pura-pura cuek agar tidak ditanya. Pun para supir taksi yang melewati saya, saya pikir karena mereka tidak bisa bahasa Inggris dan khawatir saya menggunakan bahasa Inggris pada mereka.

Setelah beberapa taksi melewati saya, akhirnya ada taksi yang mau berhenti. Kemudian saya naik. Ketika di dalam taksi saya ditanya apakah saya muslim? Tentu saja karena melihat hijab yang saya kenakan. Saya pun mengatakan ya. Lalu tiba-tiba saja sang supir taksi mengatakan dengan bahasa inggris terpotong-potong kalau muslim itu dangerous, bad, four wives dan kata-kata buruk lainnya yang saya tidak mau ingat. Bahkan sambil berbicara seperti itu, supir tersebut juga geleng-geleng kepala menunujukkan ketidaksukaannya. Ya Allah tolong, saya naik taksi untuk ke rumah senior saya, bukan untuk dihina-hina begini. 🙁 Saya pun hanya diam dan berusaha untuk tidak menunjukkan kekesalan saya. Hingga akhirnya supir tersebut bertanya apakah saya haksaeng (pelajar), saya jawab dalam bahasa Korea, ne, KAISTEU haksaeng (yaa, mahasiswa KAIST, padahal sih cuma exchange satu semester, hehe). Supir pun langsung memuji  tok tok hada (pintar) dan setelah itu diam. Di Korea nama KAISTEU (KAIST) dan Seoul-dae (Seoul National University)  sangat sakti, orang Korea akan sangat menghargai dan menghormati kita ketika tau kita mahasiswa dari salah satu universitas tersebut. Karena di Korea untuk bisa diterima di salah satu universitas tersebut sangatlah sulit. Alhamdulillah selama di Korea saya kecipratan nama baik KAIST walaupun cuma exchange satu semester, hehe. Nama besar KAIST ternyata bisa menghentikan diskriminasi yang saya alami. >.<

Sebagai muslim sebenarnya kita bisa meminimalisir tindakan diskriminasi dengan tidak berprilaku seperti yang beberapa media mainstream gambarkan, bahwa umat Islam itu bodoh, lemah, miskin, wanitanya terbelakang, tidak disiplin, malas, suka perang, dll, yang justru sebenarnya perilaku-perilaku tersebut sangat berkebalikan dengan yang agama Islam ajarkan. Saya sendiri sangat sedih karena indahnya Islam tertutupi oleh perilaku umat Islam yang tidak mencerminkan ajaran Islam. Adanya peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga bisa menggambarkan perilaku oknum yang berprilaku tidak baik dan mengatasnamakan Islam. Sehingga orang-orang yang tidak mengerti atau berpikiran sempit justru langsung mendiskreditkan ajaran Islam dan seluruh umat Islam, bukan oknum yang bersangkutan.

Sebenarnya saya membuat tulisan ini  ditujukan terutama untuk saya pribadi, sebagai teguran dan pengingat bahwa  sebagai orang Islam, kita harus berprilaku sebagaimana yang Islam ajarkan. Umat Islam haruslah menjadi umat terbaik dan teladan. Umat Islam harus:

1. Pintar, cerdas, berwawasan luas, baik ilmu dunia maupun akhirat, memiliki keahlian serta mendominasi sekolah dan kampus-kampus terbaik di dunia.

2. Kaya raya, karena kewajiban-kewajiban dalam Islam, misalnya saja perintah zakat dan haji, menuntut umat Islam harus kaya. Selain itu agar dapat membantu banyak orang. Bahkan salah satu do’a yang sering Rasululla SAW panjatkan adalah “Allahumma innii ‘auudzubika minal kufri wal faqri ”  Yaa Allah aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefaqiran.

3. Menguasai media, jadikan media-media milik orang Islam itu menjadi media mainstream, karena melalui media opini publik dapat terbentuk. Karena diskriminasi yang sering terjadi secara tidak langsung dipengaruhi oleh beberapa media mainstream yang mendiskreditkan Islam.

4. Sehat dan kuat, seperti yang Rasulullah SAW ajarkan karena Allah lebih menyukai muslim yang kuat dibandingkan yang lemah, sehingga umat Islam harus banyak berolahraga dan menguasai beladiri.

5. Membalas kejahatan dengan cara yang baik. Jika kita disinisi, maka kita membalas dengan senyuman tulus, jika kita dihina maka kita jangan marah, tetapi balas dengan kebaikan berupa teladan, seperti yang sering dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam perilaku beliau, juga seperti perilaku Fatma di Novel 99 cahaya Islam di Eropa.

Diceritakan Fatma adalah imigran muslim asal Turki di Austria. Suatu ketika bangsa Turki dan agamanya dihina oleh beberapa orang yang sedang berbincang di Cafe tanpa menyadari ada Fatma, orang Turki beragama Islam yang mendengar. Namun Fatma tidak langsung marah dan melabrak, melainkan berprilaku bijak dengan tanpa sepengetahuan mereka membayarkan makanan mereka dan menitipkan kertas kepada waitress untuk mereka yang bertuliskan, “Hi, I am Fatma, a muslim from Turkey” beserta alamat email di bawahnya. Hingga suatu hari salah seorang yang menghina tersebut mengiriminya email dan mengatakan sangat menyesal dan mengajaknya berteman. 🙂

Hal ini sesuai firman Allah di Surat Fushilat ayat 34, “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat  setia”. Namun jika perilaku jahat tersebut sudah mengancam nyawa kita, bukan berarti kita menerima begitu saja. Misal jika seseorang sudah main fisik, kita bisa mengadukannya kepada pihak yang berwajib. Atau jika sudah sangat genting seseorang menyerang kita secara fisik dan membahayakan nyawa, kita harus melakukan pertahanan diri.

Seringkali perilaku diskriminasi atau pandangan negatif seseorang terhadap Islam terjadi karena ketidaktahuan mereka akan Islam. Mereka hanya berkesimpulan dari media-media yang mendiskreditkan Islam, atau terkadang terjadi karena pengalaman buruk mereka ketika berkenalan dengan oknum yang mengaku Muslim. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk kita agar banyak berjalan dan berkenala di seluruh bumi, berdakwah, terutama dengan teladan, bukan sekedar kata-kata yang tidak mencerminkan perilaku. Kenalkan bahwa agama Islam itu adalah agama yang indah dan damai, rahmatan lil’alamin. Sehingga di manapun kita, sebagai orang yang mengaku beragama Islam, ketika bertindak pikirkanlah bahwa tindakan kita ini tidak hanya akan mempengaruhi kita, tapi juga mempengaruhi agama kita dan muslim yang lain. Sehingga kita akan lebih berhati-hati dalam bersikap. Ayo manjadi agen muslim yang baik dan bertebaran di berbagai belahan bumi! 🙂

Next : Kuliah Farmasi di ITB

Previous : Menjalankan Islam di Luar Negeri

4 Responses

  1. Dodi

    Terimakasih untuk tulisan, artikelnya.
    Semoga Alloh Swt. Selalu memberkati anda.
    Amiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *