‘Cuma’ Jadi Ibu Rumah Tangga

posted in: Indonesia, Lifestyle | 0

Rangkaian ujian Apoteker yang telah selesai, serta kosan di Bandung yang sudah habis masa kontraknya, membuat saya harus kembali ke kota hujan Bogor. Karena berangkat S2 masih bulan Oktober, sedangkan kalau nyari kerja di luar tanggung, dan di toko keluarga pun lagi kekurangan karyawan, saya pun selama 2 bulan ini memutuskan bekerja di toko keluarga serta membantu pekerjaan di rumah.

Dan.. saya pikir kerja di rumah menyenangkan. Saya merasa lebih produktif. Saya bisa mempelajari resep-resep baru dan melakukan hal-hal yang saya sukai. Walaupun ini mungkin terdengar berlebihan, entah kenapa kalo abis masak, dan orang makan masakan yang saya buat dengan lahap, saya jadi merasa kenyang. Benar-benar bagus buat diet saya haha. Biarpun sering masakan saya bentuknya ga meyakinkan, dan suka diledek sama adik-adik saya, tapi nyatanya pada makan dengan lahap dan minta dibikinin lagi. Kalo kata mama masakan saya enak, cuma bentuknya aja yang kadang ga meyakinkan. Mungkin ini yang namanya don’t judge food by its appearance, wkwk (bikin quote sendiri😋). Harus lebih belajar lagi nih estetika dalam memasak. Semangat. 😁

Setelah saya pikir-pikir, sepertinya menjadi ibu rumah tangga menyenangkan. Walaupun seringkali orang di luar sana nyinyir dan mengatakan ,”Ngapain kuliah tinggi-tinggi kalo ‘cuma’ jadi ibu rumah tangga?” Hey, memang apa yang salah jika ibu rumah tangga berpendidikan tinggi? Yang namanya ilmu pasti akan ada manfaatnya. Bukankah bagus jika anak dididik langsung oleh ibunya yang berpendidikan? Rasanya saya malah ingin membalikkan, “Engga sayang udah kuliah tinggi-tinggi tapi anak malah dididik pembantu?” Selain itu saya juga merasa akan lebih produktif di rumah. Saya bisa membuat tulisan, mencoba resep baru, membaca buku-buku. Dan pastinya pendidikan anak bisa saya lebih perhatikan.

Pernah suatu ketika saya menyaksikan pemandangan yang menyesakan terkait kedekatan ibu dan anak. Ketika itu lebaran, pembantunya tidak masuk, ibu muda tersebut mau menyuapi anaknya makan, tapi anaknya tidak mau, maunya sama “Bibi”. Kok sesak ya? Jujur saya juga merasa sesak melihat anaknya, badannya begitu kurus. Sampai akhirnya ibu muda tersebut saya tegur, “Kak, kenapa ga berhenti kerja aja? Kasihan dedek, malah lebih deket sama Bibi.” Saya berkata seperti itu karena saya tau suaminya kerja di perusahaan multinasional, masih muda, dan sudah menjadi direktur. Kalo gajinya ga usah ditanya, sangat besar, apalagi untuk pasangan baru beranak 2 dan masih belum sekolah. Ibu muda tersebut pun mengatakan, “Sayang Ca (panggilan saya), kakak kan udah kuliah susah-susah, masa ‘cuma’ jadi ibu rumah tangga, mungkin nanti kalo udah beberapa tahun kerja.”

Yah memang setiap orang punya alasan dibalik pilihan yang dibuatnya. Termasuk definisi kebahagian dan kebermanfaatan yang berbeda-beda antar orang yang satu dengan lainnya. Kalau saya pribadi berpendapat sangat sayang jika kita harus mengorbankan pendidikan dan kedekatan dengan anak di rumah demi ambisi karir pribadi. Apalagi jika anak masih kecil-kecil. Lagipula di era digital saat ini, sebenarnya banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan dari rumah. Sehingga ibu rumah tangga pun bisa tetap produktif dan berkarya. Mudah-mudahan dengan semakin majunya era digital, ke depannya ga ada lagi istilah ‘cuma’ jadi ibu rumah tangga.

Next : Tips Mencapai Target IELTS untuk Studi

Previous : Perjalanan ke Nami Island dan Jeju Island

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *