Bicara Mengenai Kesehatan Mental

posted in: Indonesia, Stories | 2

Dahulu sebelum berangkat kuliah ke Jerman, seperti kebanyakan orang Indonesia, saya masih berfikir bahwa orang-orang yang mengalami stress, depresi, atau gangguan mental lainnya sebagai orang-orang yang tidak bersyukur sama Tuhan, terlalu berambisi, atau kurang ibadah. Seringkali orang-orang di sekitar penyintas gangguan mental tidak menanggapi dengan serius, malah memperparah dengan memberikan stereotype buruk terhadap orang-orang tersebut. Bukan hal aneh terdengar celetukan terutama dari generasi sepuh, “Ngapain depresi, kalo depresi tandanya ga bersyukur” atau “Kamu kurang ibadah kayaknya”, dll. Padahal masalah kesehatan mental ternyata tidak sesederhana karena ga bersyukur apalagi kurang ibadah. Ada hal yang lebih kompleks dari itu. Hal ini mengakibatkan orang-orang yang sebenarnya butuh penanganan segera, jadi tidak tertangani dan memperburuk keadaan. Paling parah penyintas bisa bunuh diri atau bahkan mencelakakan orang lain.

Well, di sini saya akan bercerita awal mula mengapa saya jadi concern dengan masalah kesehatan mental.

mental health
sumber foto : rsudmangusada

Saat awal kuliah di kota Munich, saya dan mahasiswa baru lainnya sangat sulit menemukan akomodasi di kota Munich (baca:Pilihan Akomodasi di Munich (Student)). Kota Munich sendiri merupakan salah satu kota terbaik di dunia untuk tinggal (Monacle, 2018), karena banyak perusahaan-perusahaan besar yang menjadikan kota Munich sebagai kantor pusat, ditambah Munich menjadi tuan rumah universitas-universitas terbaik di Jerman (TUM & LMU). Hal ini menyebabkan harga akomodasi menjadi sangat mahal, pelajar dari seluruh dunia tidak hanya bersaing dengan sesama pelajar untuk mendapat akomodasi yang terjangkau, tetapi juga bersaing dengan para ekspat. Walaupun penduduk kota Munich punya rumah-rumah dengan halaman yang sangat luas, tidak banyak yang memanfaatkannya dengan membangun gedung untuk disewakan atau mau menyewakan kamar-kamarnya di rumah besar mereka dengan alasan privasi dan kenyamanan hidup dari orang asing. Selain itu, di Jerman walau punya halaman atau tanah yang luas, tidak bisa sembarang bangun, karena setiap rumah dan apartemen di Jerman punya standar bangunan dan luas setiap ruangan. Sehingga saat awal tiba di Munich, biasanya banyak yang belum dapat tempat tinggal, bahkan teman-teman kuliah saya selama beberapa minggu banyak yang stay di hotel. Saya sendiri lewat kenalan, bisa menumpang di tempat mahasiswa Indonesia di Munich selama 2 minggu. Selama 2 minggu pertama di Munich, kegiatan saya hanya mencari-cari tempat tinggal, karena ga enak juga numpang lama-lama di tempat orang.

Singkat cerita, melalui ketua PPI Munich saat itu, beliau menawarkan menyewa kamar di rumah kenalannya seorang ibu-ibu asal Surabaya yang bersuamikan orang Jerman. Tawaran harga sewanya sangat murah untuk ukuran kota Munich, hanya €350, dengan standar kota Munich menyewa 1 kamar biasanya >€500/bulan. Tapi memang sesuai harganya, kamar yang ditawarkan kepada saya terletak di lantai 2 yang ruangan tersebut dulunya merupakan bekas dapur, ukurannya hanya 3m2, benar-benar hanya kasur dan lemari built in yang menempel di dinding. Bandingkan dengan kota Berlin yang dengan €350 bisa tinggal di apartemen yang luas. Walaupun begitu, saya memutuskan untuk tetap ambil, karena tidak mungkin saya terus menumpang di tempat orang, sedangkan kuliah kurang dari seminggu sudah akan dimulai.

Di rumah tersebut tidak hanya saya mahasiswa yang akan tinggal, tapi juga 1 orang cowok Indonesia yang dulu satu almameter dengan saya di ITB (kita sebut Budi, bukan nama sebenarnya) dan 1 orang cowok Malaysia (kita sebut Amir, bukan nama sebenarnya). Kami bertiga sama-sama akan kuliah di Technical University of Munich (TUM). Tapi jangan suudzon dulu yaa, biarpun saya tinggal satu rumah dengan mereka, saya tinggal di lantai 2 bersama si om dan tante, anak si om dan tante tinggal di lantai 1, sedangkan kedua mahasiswa cowok itu tinggal di kamar luas ruang bawah tanah. Di awal kami semua dikumpulkan si Tante dan dijelaskan aturan di rumahnya, kemudian kami diminta berjanji untuk tidak cerita-cerita ke masyarakat Indonesia di Munich bahwa kami tinggal di rumah si Tante. Alasannya tinggal di tempat dia murah, sedangkan ada beberapa ibu-ibu Indonesia juga yang menyewakan tempat tinggalnya ke mahasiswa Indonesia lainnya, tapi dengan harga yang lebih mahal dari si Tante. Jadi dia ga mau bikin kecemburuan.

Satu bulan pertama kami tinggal di situ masih terasa normal. Si Tante masih baik suka mengajak kami ikut makan bersama, dia suka memasak makanan Indonesia dan rasanya enak. Walaupun kalau saya sedang di kamar, dia suka memanggil saya mengajak ngobrol. Kalau mengajak ngobrol bisa dari jam 8 atau 9 malem sampai jam 1 pagi! Saya yang tipikal orangnya ga enakan tetap meladeni. Saya memang ga punya pilihan lain, nyari tempat tinggal di Munich sangat susah, saya harus bersyukur bisa dapat tempat tinggal, bahkan dengan harga terjangkau untuk ukuran kota Munich. Si Tante cerita banyak hal, tentang dia kapok menyewakan kamar ke anak-anak Studienkolleg (pelajar lulusan SMA yang persiapan S1 di Jerman) yang pada bikin masalah dan berbuat jahat di rumahnya, tentang suaminya yang terindikasi selingkuh, tentang adik-adiknya di Surabaya yang bergantung hidup dari uang si Tante dan rumah tangganya berantakan, tentang ibu-ibu di Indonesia yang sering iri sama dia karena dapat suami yang punya warisan banyak, dsb.

Bahkan katanya dulu dia sempat sakit yang ga ketahuan sakitnya apa, udah pulang ke Indonesia dan berobat ke berbagai dukun ga sembuh juga (sorry to say, si Tante memang kurang dari segi pendidikan dan dari latar belakang keluarga kurang mampu, nasib berubah setelah nikah dengan bule Jerman). Katanya dia pernah nyetir di Autobahn (jalan tol), tiba-tiba dia ngelihat kayak ada sapi di tengah jalan yang mau ngehantam mobil dia, sampai dia berhenti mendadak di tengah jalan. Dan dia bilang pelaku yang ngirim ilmu hitam ke dia salah seorang ibu asal Indonesia di kota Munich yang iri sama dia. Saya kenal sama ibu tersebut karena beliau sering dateng ke pengajian. Saya yang memang mukanya sangat ekspresif, pasang muka setengah ga percaya, wkwk. Dan si Tante pun tersenyum dan bilang, “Annisa, kamu masih muda, ga kenal jahatnya dunia.” Intinya si Tante bilang banyak yang ingin ngejahatin dia karena iri sama dia.

Satu bulan kemudian, tiba-tiba si Tante ngeluh sama perilaku Budi (bukan nama sebenarnya), mahasiswa asal Indonesia tinggal di ruang bawah tanahnya. Kata si Tante, Budi kalau makan suka goyang-goyang kakinya, dan dia itu sebenarnya sedang memangku tuyulnya. Hah?? Saya benar-benar sulit percaya. Saya bilang ke si Tante, saya juga kalau merasa kedinginan atau mengantuk biasanya juga akan menggoyang-goyangkan kaki saya. Lagian Budi sama seperti saya, alumni kampus teknik yang notabene-nya kami diajarkan keilmuan saintifik yang rasanya hal-hal seperti ilmu hitam itu tidak masuk akal. Saya pikir perilaku seperti santet, tuyul, ilmu hitam hanya terjadi di kampung-kampung saja. Apalagi Budi juga asal Jakarta. Si Tante lagi-lagi hanya tersenyum, “Annisa, kamu harus percaya adanya sihir, Rasulullah aja pernah kena sihir. Biarpun saya ga bisa baca tulis Al-Qur’an, saya ngerti ilmu agama. Kakek saya pemuka agama, dan saya dapat penjagaan seorang ‘Syekh’ yang selalu ada di samping saya dan akan melindungi saya dari orang-orang jahat. Mungkin kamu ga bisa lihat, karena kamu ga punya ilmu batin untuk lihat itu.” Saya pun tidak bisa berkomentar apa-apa. T.T

Sejak itu hampir setiap hari si Tante selalu bikin drama, mulai dari anak-anak Studienkolleg yang si Tante usir dulu masih belum dapat tempat tinggal katanya masih berkeliaran di sekitar rumahnya mau ngejahatin dia, tuyulnya si Budi mencuri uang dialah, si Budi katanya kirim angin kencang pagi-pagi supaya si Tante ga bisa kerja (Putzfrau), si Budi (Bapaknya kerja di KPK) memata-matai dan merusak CCTV rumah si Tante, sampai pas pulang kuliah si Tante cerita kalau Budi naruh serpihan beling di depan kamar saya, dan sama si Tante sudah dibersihkan. Si Tante bilang Budi cemburu sama saya karena dekat dengan si Tante. Bahkan yang paling parah si Tante bilang kalau Budi itu suka sama anaknya yang cowok (sekarang bahkan Budi udah menikah dengan wanita, wkwk), yang beberapa hari kemudian berubah menjadi Budi suka sama si Tante. Whaaat? Saya benar-benar ga ngerti, masa iya sih Budi yang notabenenya engineer yang educated begitu..

Lama-kelamaan drama-drama si Tante mulai terasa mengganggu, saya jadi sulit mau pulang ke rumah cepat. Karena kalau pulang cepat si Tante akan mengajak saya curhat tentang ‘perilaku-perilaku aneh Budi’, anak-anak Studienkolleg yang udah diusir, dan orang-orang di sekitarnya yang dia bilang mau jahatin dia. Cerita si Tante yang berjam-jam mulai menggangu, saya jadi tidak bisa tidur dan belajar. Kadang terpaksa saya harus sampai larut malam di perpustakaan kampus untuk menghindar diajakin ngobrol sama si Tante. Tapi bagaimana pun saat itu sudah mulai musim dingin, saya jadi mudah sekali lapar, sedangkan kalo terus-terusan beli makan di luar sangat boros. Saya harus pulang ke rumah untuk masak kalau mau hemat. Saya jadi tidak habis pikir, kenapa malah di Jerman ini yang notabene-nya negara maju dengan teknologi canggih saya ketemu orang aneh ngomongin sihir, tuyul, orang jahat, dll.^^’

Puncaknya menjelang natal, si Tante mengumpulkan kami bertiga dan menyuruh kami bertiga bersumpah di depan Al-Qur’an kalau kami tidak membuat onar di rumahnya. Setelah kami bersumpah di depan Al-Qur’an, tiba-tiba si Tante berkata bahwa Budi harus segera pergi dari rumahnya malam itu juga, karena bagaimana pun si Tante tidak tahan dengan ‘perilaku-perilaku’ Budi selama ini. Saat itu Budi benar-benar syok dan berkaca-kaca, karena malam itu Budi berencana mau liburan ke Italia bareng teman-temannya. Budi akan berangkat jam 10 malam, sedangkan saat itu sudah jam 8 malam. Si Tante pun memutuskan memberi dispensasi, barang-barangnya boleh dititipkan, tapi kunci kamar dan rumah harus berada di tangan si Tante. Budi pun pergi dengan marah-marah tidak terima perilaku si Tante dan berkata telah dizalimi si Tante. Setelahnya si Tante memperingatkan saya dan Amir jangan coba-coba meniru ‘perilaku’ Budi.

Sampai saat itu saya yang masih belum menyadari bahwa si Tante punya gangguan kejiwaan memutuskan untuk segera cari tempat lain. Karena bagaimana pun drama-drama yang ada di rumah itu benar-benar mengganggu. Semenjak itu di sela-sela waktu kuliah saya terus-terusan fokus mencari tempat tinggal, mulai dari housing website, sampai minta tolong teman di Munich mengabari kalau tahu ada tempat kosong untuk disewa. Alhamdulillah setelah dua minggu, ada iklan dari orang Indonesia di Munich ada orang Jerman yang menyewakan kamarnya dan sekarang lagi kosong karena orang Korea yang tinggal di rumahnya akan pindah ke asrama. Selama ini pemiliknya memang hanya mengkhususkan kamarnya disewakan pada orang Indonesia atau Korea, karena katanya orang dari kedua negara itu paling kalem. Alhamdulillah yaa Allah.

Saya pun dengan segera mengabari si Tante kalau seminggu lagi saya akan pindah karena dapat kamar yang lebih deket ke kampus. Si Tante terlihat kaget. Besoknya setelah saya mengatakan itu si Tante kembali membuat drama, dia bilang apakah saya memasukkan cuka ke dalam gula yang sering dipakai suaminya. Kemudian besoknya dia bilang beberapa gelas di rumahnya tiba-tiba hilang, dst. Puncaknya sehari sebelum saya pindah. Saya mau berangkat ke kampus jam 10 pagi, sedangkan si Tante pagi-pagi sudah pergi, tiba-tiba beberapa menit kemudian si Tante pulang lagi dan berteriak memanggil saya. Dia bilang dia pagi-pagi mau ke bank dan membawa jus pisangnya yang semalam dia letakkan di samping drawer kamarnya, di jalan saat dia mau minum jus pisangnya, seperti ada sesuatu di dalam minumannya. Kemudian dia mengambil mangkuk dan menuangkan botol jus pisangnya, terlihat seperti ada kelopak bunga. Dia menuduh saya mau meracuninya dengan ‘jamur’ (saya lihat itu kelopak bunga). Katanya kalau bukan saya siapa lagi, tidak mungkin suaminya, anaknya, atau Amir si Malaysia karena dia bukan orang Indonesia (terus kalau bukan orang Indonesia ga bisa berbuat jahat gitu yaa, wkwk). Saya pun diminta sumpah demi Allah kalau saya tidak melakukan. Tentu saja saya bersumpah. Buang-buang waktu banget jauh-jauh ke negeri orang cuma buat ngerjain orang lain. Saya sampai berkaca-kaca, saya tidak mengerti ada apa dengan si Tante ini, kenapa setelah Budi ga ada target berikutnya menjadi saya. Sebelum- sebelumnya dia selalu berprilaku baik pada saya, mengatakan saya sudah dianggap seperti anak perempuannya karena dia pengen punya anak perempuan. Saya sampai bertanya-tanya apa mungkin suami si Tante ini jahat. Saya yang sudah tidak tahan memutuskan menemui senior saya yang besok akan menemani pindahan.

Saya pun bercerita kepada senior saya kronologis drama-drama di rumah itu. Beserta pengusiran Budi dan anak-anak Studienkolleg sebelumnya. Saya sampai mengira apa mungkin suaminya, karena kata si Tante suaminya selama ini dibilang suka berselingkuh. Namun menurut senior saya, masalahnya bukan di orang-orang lain, tapi si Tante lah yang sebenarnya bermasalah. Si Tante punya gangguan kejiwaan. Dan kalau dilihat dari gejala-gejalanya, kemungkinan si Tante mengidap Skizofrenia Paranoid. Karena ciri-cirinya percis sekali seperti yang dikatakan dr. Merry Dame Cristy Pane di Alodokter yaitu :

-Merasa seseorang atau pemerintah sedang memata-matai aktivitas sehari-harinya

-Merasa orang sekitar sedang bersekongkol untuk mencelakai dirinya

-Merasa teman-teman atau orang terdekat mencoba mencelakai dirinya, salah satunya adalah pemikiran bahwa ada yang memasukkan racun ke dalam makanannya

-Merasa pasangannya sedang berselingkuh

Besoknya saat pagi-pagi saya mau pindahan, si Tante menyuruh saya menandatangani pernyataan saya pernah tinggal di rumahnya. Saya tanda tangani saja, terserahlah, saya sudah lelah dengan drama-drama si Tante. Saat mau pamitan bersama senior saya, si Tante mengajak senior saya berbicara, dia bilang senior saya harus berhati-hati sama orang yang kelihatannya baik tapi sebenarnya jahat sambil melirik saya. Senior saya hanya tersenyum mendengar ocehan si Tante.

Hari Minggu seperti biasanya saya ikut pengajian masyarakat Indonesia di Munich, tiba-tiba saya diajak ngobrol Bu Y, sesepuh di Munich. Beliau bilang, “Annisa, kata C (senior saya) kamu selama ini tinggal di rumah Ibu M? Ya Allah… dia itu punya gangguan mental. Saya udah berapa kali bilang ke suaminya bawa dia ke psikiater. Tapi ga digubris juga. Padahal dua tahun lalu dia bilang dia udah ga mau sewakan rumahnya lagi ke anak-anak, katanya kapok. Kalau saya tau kamu selama ini tinggal di rumahnya udah saya kasih tau deh.” Pantes aja si Tante waktu awal-awal minta saya, Budi, dan Amir jangan bilang siapa-siapa bahwa kami tinggal di rumahnya. T-T Di kemudian hari saya baru tau dari Budi ternyata Amir sudah pindah seminggu sebelum saya pindah karena ga tahan sama si Tante. Padahal si Tante yang bilang saat saya pindahan ga usah pamitan sama Amir karena dia udah berangkat ke kampus.

Semenjak itu saya jadi belajar banyak tentang kesehatan mental, termasuk dari cerita-cerita teman dan orang di sekitar. Saya berharap ke depannya masalah gangguan mental bisa ditanggapi dengan serius oleh orang-orang di sekitar penyintas. Karena seperti penyakit lainnya, mereka butuh pengobatan. Semoga kedepannya masyarakat tidak lagi men-judge orang-orang dengan gangguan mental sebagai orang yang jauh dari Tuhan (Si Tante rajin sholat, bahkan udah Haji juga). Karena dari hasil diskusi dengan teman-teman saya, ada juga orang-orang di sekitar kami yang pintar, berprestasi, aktivis, rajin ke pengajian, rajian ibadah, dari luar kelihatan fine aja, ternyata mengalami gangguan kejiwaan, bahkan sampai mau bunuh diri.

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published.