Backpacking to Singapore and Malaysia (Part 1)

posted in: Indonesia, Traveling | 0

27 Mei 2013

Setelah delapan bulan menunggu, tiba juga hari keberangkatan ke Singapura. Yeaaay!! ^^ Yup, karena naik pesawat budget (Air Asia),  jadi beli tiket pesawat udah dari bulan September supaya murah. Ke singapura pulang pergi hanya 550 ribu udah termasuk bagasi 15 kg. Sebenarnya saya bisa dapet lebih murah lagi, karena sempet ada harga keberangkatan yang 65 ribu, tapi dalam waktu beberapa menit belum sempet kita booking udah keburu abis.

Tema keberangkatan kali ini adalah ‘backpacking’. Saya bersama ketiga teman memang rencananya menginap di penginapan hanya satu hari untuk menghemat biaya. Kami berangkat ke Singapura pukul setengah 6 pagi dan akan ke kembali ke Singapura pukul 10 malam di tanggal 30 Mei 2013. Sengaja kami berangkat pagi sekali dan pulang larut malam. Selain untuk menghemat biaya, juga menghemat waktu. Jadi benar-benar 4 hari full. 😀

Penerbangan internasional harus check in maksimal tiga jam sebelum keberangkatan dan minimal satu jam sebelum keberangkatan. Karena itu minimal pukul setengah 5 pagi kami sudah harus check in. Kami memperkirakan perjalanan ke bandara sekitar tiga jam dari Bandung, sehingga kami berangkat pukul 12 malam dengan asumsi kami tiba pukul tiga pagi. Karena baru-baru ini saya ke Bandara Soekarno-Hatta dari Bandung menggunakan travel hanya tiga jam. Tapi entah kenapa, ketika pukul 3.45 pagi, kami masih di daerah Jakarta, bahkan belum memasuki Cengkareng. Sempat harap-harap cemas, karena maksimal check in pukul 4.30. Alhamdulillah, ternyata kami bisa sampai pukul 4.20. Benar-benar nyaris. Mengingat kami membeli tiket promo, sangat tidak mungkin jika kami tidak berangkat uang akan dikembalikan.

Setelah terbang kurang lebih satu setengah jam, akhirnya kami tiba di Changi International Airport Singapura.  Saya baru pertama kali menginjakan kaki di Changi, karena sebelumnya saya ke Singapura melalui Harbour front dari Batam. Bandara Changi benar-benar futuristic dan nyaman. Seperti sebelumnya ketika beberapa waktu lalu saya ke Singapura, saya lihat pekerja-pekerja di bandara pun kebanyakan orang yang sudah sepuh. Memang akan mudah kita temukan di mal-mal Singapura, petugas bersih-bersih adalah orang yang tergolong tua. Kasihan juga melihatnya. Saya pikir masih lebih baik di Jepang, karena walupun manula-nya banyak, saya tidak menemukan pekerja bersih-bersihnya adalah manula. Kami memutuskan untuk naik MRT ke tempat kami menginap. Mengingat rute MRT tidak serumit Bus.

Untuk ke Stasiun MRT Changi di terminal 2, kami menggunakan sky train yang disediakan Bandara secara gratis untuk berpindah dari satu terminal ke terminal lain. Rencananya kami akan menginap di Bugis, tempat saya menginap dulu. Saat mau membeli kartu E-Z link yang biayanya akan lebih murah dibandingkan jika kita terus-terusan membeli manual setiap akan berangkat, kami membaca di selebaran yang ditempel di loket bahwa tourist bisa membeli Singapore Tourist Pass (STP).

STP ini unlimted untuk naik kendaraan public di Singapura seperti MRT dan bus. Jadi kita tidak perlu mengisi ulang kartu atau membeli tiket manual. Benar-benar sangat praktis. STP ini ada yang berlaku 1 hari, 2, hari, 3 hari, dan harganya disesuaikan. Saat ditanya petugas loket berapa lama akan di Singapura, kami menjawab 3 hari, karena 1 hari akan kami pakai untuk ke Malaysia. Tapi karena kami akan ke Malaysia di hari ketiga, dan STP hanya bisa digunakan berturut-turut, maksudnya kami di Singapura 2 hari berturut-turut, ke Malysia di hari ketiga, dan di hari keempat kembali lagi ke Singapura, kami memutuskan membeli STP untuk dua hari berturut-turut. Sehingga di hari keempat kami akan membeli STP yang berlaku satu hari. Harga STP ini sehari unlimited adalah $20, dan kami akan mendapatkan kembalian 10$ setelah kami mengembalikan kartu. Jadi sebenarnya uang yang kami habiskan untuk STP ini hanya $10. Benar-benar sangat murah, mengingat mobilisasi kami nanti yang sangat tinggi. Dibandingkan kami membeli tiket manual, yang selain memakan waktu, tentunya akan sangat mahal. Harga STP untuk 2 hari unlimited dan seterusnya sudah pasti lebih murah lagi.

Dengan menggunakan MRT akhirnya sampai juga kami di Bugis.  Tempat penginapan kami merupakan budget hostel yang recommended untuk para backpackers. Kami memilih Bugis untuk tempat kami stay dengan pertimbangan mudah menemukan makanan halal dan dekat dengan Masjid Sultan. Setelah rebahan sebentar dan ngadem dekat AC di kamar, suhu di Singapura benar-benar sangat panas dibandingkan Jakarta, kami memutuskan untuk melaksanakan itinerary yang sudah kami susun semenjak di Indonesia.

Tempat tujuan pertama kami hari ini adalah Nasional University of Singapore (NUS). Mungkin semacam UI di Indonesia.  Rencananya kami akan ke NUS museum keliling-keliling fakultas menggunakan bus.

Sayang sekali, ketika kami tiba di NUS museum,  museum tersebut ternyata tutup di hari Senin. Akhirnya kami hanya foto-foto di depannya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Nanyang Technological University (NTU), katanya sih kalo di Indonesia kayak ITB. Nah, inilah yang kami nanti-nantikan, karena di sini kami akan mencari seseorang yang ingin dijumpai teman kami, hihi. Dan katanya orang Indonesia di sini cukup banyak. Saat berkeliling menggunakan  bus, kami melewati satu per satu fakultas. Entah kenapa kampus di hari dan waktu itu sangat sepi. Akhirnya kami memutuskan untuk foto di salah satu spot di  Nanyang.

Karena lapar, kami memutskan untuk makan di kawasan dekat Nanyang yang seperti jajanan di festival.  Dari Nanyang, kami memutuskan untuk ke Chinatown untuk melihat gemerlap malam dan ingin melihat harga souvenir di sini. Sebelum berkeliling, kami memutuskan untuk shalat di Masjid Jamae Chinatown. Masjid Sultan di Bugis memang lebih artistic dan besar dibandingkan Masjid Jamae. Tapi dari segi kenyamanan, masjid Jamae lebih nyaman, karena selain toilet dan tempat wudhu-nya yang sangat luas dan cantik, di sini juga disediakan air minum. Sehingga kami bisa mengisi ulang air minum untuk menghemat pengeluaran, hehe. Dari rekomendasi blogger lain, Chinatown adalah tempat termurah untuk membeli souvenir. Ada juga yang bilang di Bugis lebih murah. Waktu sebelumnya saya ke Singapura, saya tidak ke Chinatown, sehingga tidak bisa membandingkan harganya. Setelah melihat harga-harga souvenir di Chinatown, kami memiliki kesimpulan bahwa harga souvenir di Chinatown lebih murah dibandingkan di Bugis. Selain itu juga lebih lengkap.

Dari Chinatown, kami memutuskan untuk pergi ke City Hall, untuk melihat suasana malam yang menjadi landmark Singapura ini. Apalagi kalo bukan Marina Bay Sands, Helix Bridge, dan Merlion Statue yang rasanya tidak lengkap jika ke Singapura tapi tidak berfoto di sini. Mungkin istilahnya di sini adalah tempat wisudanya orang yang sudah ke Singapura, hehehe.  Karena sudah larut malam, kami memutuskan untuk pulang. See you tomorrow! 

Singapore Marina Bay Sand and Helix Bridge

Next : Backpacking to Singapore and Malaysia (Part 2)

Previous : Cara Membuat Visa Schengen di Kedutaan Belanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *